ya sudah, saya turut mengucapkan selamat hari pahlawan saja dulu untuk semua. dan dengan gaya bahasa penataran P4 saya juga sampaikan agar dengan momen peringatan hari pahlawan ini mengembalikan semangat kita untuk bla...bla...bla... *normatif dan silakan sambung sendiri*
tapi setidaknya ada beberapa hal yang saia merasa aneh, tidak sepakat, atau bahkan sangat sepakat, yaitu:
pahlawan tanpa tanda jasa
saia sangat tidak sepakat dengan julukan yang sering disematkan pada para guru ini. bagi saia ini semacam menjadi fait accompli. sebuah jargon masa lalu, yang sekarang mungkin sudah irelevan. aneh saja rasanya mendengar dari dulu. pahlawan tanpa tanda jasa... hmm... artinya pahlawan lain itu memiliki tanda jasa. tapi ya sudahlah, yang jelas bagi saia era itu sudah berlalu. bahkan guru (sertifikasi) kini termasuk kelompok PNS dengan penghasilan tinggi di banding PNS lainnya.
saia turut senang saja, sekalipun saia sama sekali bukan seorang guru. tapi setidaknya stigma 'oemar bakri' perlahan tapi pasti mulai bergeser. dan ini memang bukan sekedar masalah stigma, tapi kondisi obyektif. sudah ah...
pahlawan kesiangan
nah... apalagi ini? sudah seringkali saia dengan frase ini yang konon ditujukan bagi mereka yang mengambil peran terlambat, tapi lantas mengklaim sebagai aktor utama, atau setidaknya berada pada jajaran aktor utama. bahkan, tak tertutup kemungkinan mereka-meraka ini meninggalkan yang lainnya. itu kira-kiranya sih...
tapi bagaimana kalau diartikan begini...
pahlawan kesiangan itu adalah seorang pahlawan yang sering bangun kesiangan. naah... setidaknya saia, paling tidak bisa kena dalam satu kategori, kesiangannya, walau bukan pahlawannya. atau, paling tidak terdapat sejumlah pahlawan yang tidak termasuk pada jajaran pahlawan kepagian atau kemalaman. sudah lagi ahh.... terlampau melantur saia...
yang jelas, hari ini saya cuma mau mengutip kata-kata mendiang Cak Nur saja.
menjadi pahlawan itu bukanlah cita-citasudah, itu saja. tulisan lain di atas itu boleh dilupakan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar